"Tahun baru islam bukanlah suatu perpindahan tahun tanpa makna, melainkan suatu hari dimana perlu adanya perubahan diri menuju insan dan bertaqwa"
Menjadi manusia baru bukan berarti
terlahir kembali dari rahim ibu, akan tetapi memulai lembaran baru untuk
melangkah kehidupan yang lebih baik, entah di dunia maupun di akhirat. Dan
perubahan itu tidak akan berarti bila sebatas perubahan lahiriyah saja. Memang
tidak ada salahnya jika seseorang memulai kehidupannya yang baru dengan
mengawali perubahan yang bersifat fisikli, akan tetapi itu tidaklah prinsip.
Banyak diantara kita yang seringkali disibukan dengan hah-hal yang bersifat
fisikli dam matrialis, namun disitu sisi melupakan aspek religi dan kualitas
ruhani.
Muharram adalah bulan mulia.
Karenanya dinamakan dengan “ Syahrullah”, yaitu bulan Allah. Sesuatu yang
dinisbatkan kepada Allah SWT mengandung makna mulia. Disamping itu ia termasuk
salah satu dari empat bulan yang dijadikan Allah sebagai bulan haram. Ia juga
dijadikan sebagai awal bulan dalam hitungan tahun hijriyah sebagaimana telah
disepakati oleh para sahabat pada masa khalifah Umar bin Khotob. Tahun ini juga
sebagai momentum hijrahnya Nabi SAW dari Mekah ke Madinah. Dan dibulan ini pula
disunnahkan untuk berpuasa, bahkan merupakan puasa yang paling utama sesudah
puasa bulan Ramadhan.
Abu Hurairah Radiyallahu Anhu
meriwayatkan, Rasulullah Sallallahu alaihi wa Sallam bersabda : " Puasa
yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Muharam,
sedang salat yang paling utama sesudah salat fardlu adalah salat malam."(
HR Muslim II/2611.).
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
tiba di Madinah, kemudian beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari
Asyura. Beliau bertanya :"Apa ini?" Mereka menjawab :"Sebuah
hari yang baik, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan bani Israil dari
musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur. Maka
beliau Rasulullah menjawab :"Aku lebih berhak terhadap Musa daripada
kalian (Yahudi),maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk
pengagungan kami terhadap hari itu.
(Hadits Shahih
Riwayat Bukhari 4/244, 6/429, 7/274, disahihkan pula oleh Syaikh Al Bani).
Inilah diantara peristiwa-peristiwa
mengapa bulan Muharam itu dimuliakan. Namun demikian tidak banyak dari kaum
muslimin yang tahu bagaimana cara memuliakanya. Bahkan diantara mereka
mengerjakan beberapa amalan yang tidak pernah dicontohkan oleh Rosulluwoh SAW,
seperti menjadikan 1 Muharram sebagai hari raya, dengan selain memeberi hadiah
satu dengan lainnya, mejalankan sholat khusus Muharram dan berdoa khusus tahun
baru. Padahal dalam Islam hari raya hanya ada dua, Idul Fitri dan Adha.
Untuk menjadi manusia baru di tahun
yang baru, tidaklah harus dengan melakukan acara dan ritual yang semarak dan
banyak biaya, hanya untuk meniru (tasyabbuh) kepada kebanyakan orang. Kita pun
bisa melakukan hal yang sama atau bahkan menandingi sebagaimana mereka rayakan
di bulan Januari pada setiap tahunnya. Namun jika memeng tidak ada contoh dari
Rasulullah saw, Shahabat dan para Salafussholeh, mengapa kita menghidupkan
tradisi dan gemar meniru budaya diluar Islam yang menyesatkan. Na’udzubillah
min dzalik. Allahu a’lam bisshowab.
[] Abu Abdillah
Nasiem Aziezy

Tidak ada komentar:
Posting Komentar