Rabu, 21 November 2012

Menjadi Manusia Baru di Tahun Baru



"Tahun baru islam bukanlah suatu perpindahan tahun tanpa makna, melainkan suatu hari dimana perlu adanya perubahan diri menuju insan dan bertaqwa"




            Menjadi manusia baru bukan berarti terlahir kembali dari rahim ibu, akan tetapi memulai lembaran baru untuk melangkah kehidupan yang lebih baik, entah di dunia maupun di akhirat. Dan perubahan itu tidak akan berarti bila sebatas perubahan lahiriyah saja. Memang tidak ada salahnya jika seseorang memulai kehidupannya yang baru dengan mengawali perubahan yang bersifat fisikli, akan tetapi itu tidaklah prinsip. Banyak diantara kita yang seringkali disibukan dengan hah-hal yang bersifat fisikli dam matrialis, namun disitu sisi melupakan aspek religi dan kualitas ruhani.
            Muharram adalah bulan mulia. Karenanya dinamakan dengan “ Syahrullah”, yaitu bulan Allah. Sesuatu yang dinisbatkan kepada Allah SWT mengandung makna mulia. Disamping itu ia termasuk salah satu dari empat bulan yang dijadikan Allah sebagai bulan haram. Ia juga dijadikan sebagai awal bulan dalam hitungan tahun hijriyah sebagaimana telah disepakati oleh para sahabat pada masa khalifah Umar bin Khotob. Tahun ini juga sebagai momentum hijrahnya Nabi SAW dari Mekah ke Madinah. Dan dibulan ini pula disunnahkan untuk berpuasa, bahkan merupakan puasa yang paling utama sesudah puasa bulan Ramadhan.
            Abu Hurairah Radiyallahu Anhu meriwayatkan, Rasulullah Sallallahu alaihi wa Sallam bersabda : " Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Muharam, sedang salat yang paling utama sesudah salat fardlu adalah salat malam."( HR Muslim II/2611.).

            Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tiba di Madinah, kemudian beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya :"Apa ini?" Mereka menjawab :"Sebuah hari yang baik, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur. Maka beliau Rasulullah menjawab :"Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (Yahudi),maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan kami terhadap hari itu.
(Hadits Shahih Riwayat Bukhari 4/244, 6/429, 7/274, disahihkan pula oleh Syaikh Al Bani).

            Inilah diantara peristiwa-peristiwa mengapa bulan Muharam itu dimuliakan. Namun demikian tidak banyak dari kaum muslimin yang tahu bagaimana cara memuliakanya. Bahkan diantara mereka mengerjakan beberapa amalan yang tidak pernah dicontohkan oleh Rosulluwoh SAW, seperti menjadikan 1 Muharram sebagai hari raya, dengan selain memeberi hadiah satu dengan lainnya, mejalankan sholat khusus Muharram dan berdoa khusus tahun baru. Padahal dalam Islam hari raya hanya ada dua, Idul Fitri dan Adha.
            Untuk menjadi manusia baru di tahun yang baru, tidaklah harus dengan melakukan acara dan ritual yang semarak dan banyak biaya, hanya untuk meniru (tasyabbuh) kepada kebanyakan orang. Kita pun bisa melakukan hal yang sama atau bahkan menandingi sebagaimana mereka rayakan di bulan Januari pada setiap tahunnya. Namun jika memeng tidak ada contoh dari Rasulullah saw, Shahabat dan para Salafussholeh, mengapa kita menghidupkan tradisi dan gemar meniru budaya diluar Islam yang menyesatkan. Na’udzubillah min dzalik. Allahu a’lam bisshowab.

[] Abu Abdillah Nasiem Aziezy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar