Selasa, 20 November 2012

Umar bin Khatab & Yahudi Tua




"Islam adalah agama yang adil dan penyebar kasih sayang. Tiada agama yang mengajarkan kasih sayang dan keadilan selain islam"

           

[] Rubrik : Uswah

           Sejak menjabat gubrnur, Amr bin Ash tidak lagi turun ke medan tempur. Dia lebih sering tinggal di istana.
            Didepan istananya yang mewah itu ada sebidang tanah yang luas dan sebuah gubuk reyot milik seorang yahudi tua. “Alangkah indahnya bila diatas tanah itu berdiri sebuah masjid”, gumam sang gubernur.
            Singkat kata, Yahudi tua itu pun dipanggil menghadap sang gubernur untuk bernegosiasi. Amr bin Ash sangat kesal karena kakek tua itu menolak menjual tanah dan gubuknya meskipun telah di tawar lima belas laki lipat dari harga pasaran.
            “Baiklah bila itu keputusanmu. Saya harap anda tidak menyesal” ancam sang gubernur.
            Sepeninggal Yahudi tua itu Amr bin Ash memerintahkan bawahanya untuk menyiapkan surat pembongkaran. Sementara si kakek tidak bisa berbuat apa - apa selain menangis.
            Dalam keputusanya terbetiklah niat untuk mengadukan kesewenang - wenagan gubernur Mesir itu kepada Khalifah Umar bin Khattab.  “Ada perlu apa anda jauh - jauh datang kesini?” tanya Umar bin Khattab.  Setelah menatur detak jantungnya karena berhadapan dengan seorang Khalifah yang tinggi besar dan penuh wibawa, si kakek itu mengadukan kasusnya.
            Padahal penampilan Khalifah Umar sangat sederhana untuk ukuran seorang pemimpin yang memiliki kekuasaan begitu luas. Dia ceritakan pula bagaimana perjuanganya untuk memiliki rumah itu.
            Merah padam wajah umar begitu mendengar penuturan orang tua itu. “ Masya Allah, kurang ajar sekali Amr”. “Sungguh sya tidak mengada - ada”, si kakek itu semakin gemetar dan kebingungan. Dan ia semakin bingung ketika Umar memintanya mengambil sepotong tulang, lalu menggores tulang itu dengan pedangnya.
            “Berikan tulang ini kepada gubernurku, saudara Amr bin Ash di Mesir”, kata sang Khalifah Umar bin Khattab. Si Yahudi itu semakin kebingungan, “Tuan, apakah Tuan sedang tidak mempermainkan saya?” ujar Yahudi tua itu pelan.
            Dia cemas dan mulai berfikir yang tidak - tidak. Jangan - jangan Khalifah Umar dan gubernur sama saja, pikirnya. Di manapun, mereka yang mayoritas dan memegang kendali pasti akan menindas kelompok yang minoritas, brgitu pikir si kakek. Bisa jadi dirinya malah akan di tangkap  dan dituduh subversif.
            Yahudi itu semakin tidak mengerti ketika bertemu kembali dengan gubernur Amr bin Ash. “Bongkar masjid itu” teriak Amr bin Ash gemetar, wajah pucat dilan da ketakutan yang amat sangat. Yahudi itu berlari keluar menuju gubuk reyotnya untuk membuktikan sungguhkah perintah gubernur itu.
            Benar saja  sejumlah orang sudah bersiap- siap untuk menghancurkan masjid megah yang sudah hampir jadi itu. “Tunggu” teriak sang kakek. “Maaf, Tuan gubernur, tolong jelaskan tentang perkara ini. Berasal dari apakah tulang itu? apa keistimewaan tulang itu sampai - sampai Tuan berani untuk memutuskan membongkar bagitu saja bangunan yang amat mahal ini. Sungguh saya tidak mengerti”, Amr bin Ash memegang pundak si kakek, “ Wahai kakek tulang itu hanyalah tulang biasa, baunyapun busuk” Tapi....” sela si kakek bertanya.
            “Karena berisi perintah Khalifah , tulang itu menjadi sangat berarti. Ketahuilah, tulang nan busuk itu adalah peringatan bahwa berapapun tingginya kekuasaan seseorang, ia akan menjadi tulang yang busuk. Sedangkan huruf alif yang digores, itu artinya kita harus adil baik keatas maupun kebawah, lurus seperti huruf alif. Dan bila saya tidak mampu menegakkan keadilan, Khalifah tidak segan - segan memenggal kepala saya” jelas sang gubernur.
            “Sungguh agung ajaran agama Tuan.  Sungguh, saya rela menyerahkan tanah dan gubuk itu. Dan bimbinglah saya dalam memahami ajaran islam” tutur kakek dengan menangis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar