Salah satu kegembiraan hati
ketika berdakwah ialah, disaat dakwah kita disambut hangat dan diterima oleh
umat. Dan sedangkan kegembiraan hati bagi para facebooker adalah ketika up
date status mereka dikomen atau minimal like this atas posting
mereka.
Biidznillah, ane adalah
salah seorang ikhwan yang keranjingan dakwah via facebook. Jadi, jika dakwah
ane diterima maka ada dua kegembiraan. Kegembiraan pertama adalah dakwah ane
diterima dan kegembiraan kedua adalah banyak balasan komen atas posting dakwah
yang ane posting.
Salah satu catatan dakwah yang
ane posting dan banyak sambutan hangat dari friends yaitu perihal tema
nikah. Entah kenapa ketika ane posting dengan tema nikah, pasti banyak yang share,
like dan coment. Berbeda ketika ane posting tentang tauhid, jihad
,fiqih, dan politik. Sepi tiada yang minat .
Berikut, ane ingin berbagi salah
satu catatan di facebook ane yang banyak di share lebih dari berkali
kali, disukai-lake- oleh hampir ratusan friends dan beberapa komen.
Bukan maksud hati ane berbangga atas respon facebooker yang lain. Hanya saja
ane ingin membagi ibroh dari catatan yang sudah banyak dinilai oleh
orang yang berlatar belakang berbeda. Dan alkhamdulillah rata-rata sama
responya. Mereka senang dan banyak mengambil ibroh dari catatan
tersebut.
Selamat menyimak.....
Subhanallah, seperti inilah rupa istriku
Sebuah
romatisme yang indah adalah dikala sang kekasih mampu menerima kita apa adanya
atas relita yang ada. Akan tetapi amat sulitlah mencari seorang pasangan yang
bersedia menerima apa adanya, terlebih di zaman metropolis liberalis. Dimana
pada hari ini fisik yang elok, harta melimpah dan jabatan bonafit menjadi talak
ukur mutlak atas cinta dan kasih sayang.
Namun beda
dirasa dengan kisah berikut. Suatu saat ustad saya, Ustad Tri Asmoro-hafidzhullah- pernah bertutur memberikan arahan kepada saya
perihal kriteria sang wanita yang harus saya nikahi. Beliau bercerita bahwa
kemuliaan seorang lelaki adalah ketika ia mampu menerima sang wanita atupun
pasangan apa adanya, tanpa menuntut sang wanita diatas ambang batas logika dan
kemampuanya. Seorang lelaki tiada boleh terlalu menuntut kesempurnaan atas
pasanganya, dan lebih bijak jika sang lelaki lebih intens menyempurnakan diri
untuk sang wanita ketimbang terlalu menekankan ego agar memuntut sang pasangan
akan kesempurnaan.
Beliau
bercerita ketika beliau berdakwah di luar jawa, kurang lebih tempatnya di Bima,
Nusa Tenggara. Suatu ketika, disaat selesai berdakwah beliau melihat seorang
lelaki yang gagah, tinggi, putih lagi rupawan tampangnya. Jika diqiyaskan ia
agak mirip saiful jamil sang penyanyi dangdut. Ketika disapa oleh beliau,
Subhanallah ia begitu ramah dan penuh karismatik, sehingga tak khayal jika
dalam hati ustad Tri agak terpesona akan akhlak dan parasnya, sehingga dalam
hati beliau berucap. “ lelaki seganteng dan sebaik ini pasti istrinya
cantik”. Sapa menyapa , ngobrol kesana kemari penuh ramah tamah, sehingga
singkat cerita akhirnya sang lelaki tampan itu mengajak ustad Tri ke rumahnya
sambi diperkenalkan istri tercintanya.
Ketika sang
istri keluar untuk memperkenalkan diri. Subhanallah , serasa hati dan akal ini
sukar ngiang untuk menerima. Ternyata, Qadarullah hi akhsan, tanpa
maksud mengumbar aib. Sang istri lelaki tampan itu bukanlah seperti apa yang di
bayangkan, teramat jauh dari cantik dan sempurna. Jika diperinci
fisiknya,-maaf- wajahnya teramat sangat pas pasan, bahkan bisa dinilai
jelek,warna kulitnya gelap dan fisiknya agak tidak sempurna, kakinya cacat dan
hanya bisa diatas kursi roda. Selain fisiknya kurang baik, ternyata sikap sang
istri ini ternyata agak menyebalkan. Sang istri seorang wanita yang sangat
pencemburu, maklum bisa jadi karena ia merasa bahwa ia ada kekurangan dibanding
dengan wanita lain terlebih suaminya adalah seorang yang super perfek dimata
lelaki dan wanita.
Ketika ustadz
Tri bertanya; “ afwan sebelumnya. Antum ko’ bisa dan bersedia mendampinginya
pak?”. Lelaki itupun menjawab;” Ya..bagaimana lagi tadz, kalau bukan
saya yang bersedia dengan dia, lalu siapa lagi yang mau denganya. Saya anggap
ini adalah ibadah yang saya tunjukan kepada Allah, semoga saya mendapat barokah
tersendiri dengan bersedianya saya menikahi istri saya yang seperti ini
kondisinya.” . “Ow... gitu ya pak?, kemudian bagai mana kronologinya
,kok bisa antum menikahinya”. “ Dia adalah wanita miskin yang dicerai
suaminya, kemudian saya iba melihatnya dan sayapun menikahinya, lama-kelamaan
dari awal iba tersebut lama kelamaan saya mencintainya”. “ Subhanallah,
berarti anda menikahinya dalam keadaan janda, sedang waktu itu anda seorang
jejaka muda.” “Ya,,seperti itulah tadz”.
Cerita
diatas menjelaskan kepada kita bahwa
dengan rasa tulus ikhlas menikah karena Allah, mampu membuat perkara yang
sekiranya berat diterima hati dan akal dapat diterima dengan lapang dada. Maka
dari itu, jika memang kita mencintai pasangan kita karena Allah. Mari, jangan
selalu memuntut kesempurnaan akan pasangan kita, tapi terimalah apa adanya
dirinya. Sempurnakan diri agar selalu tampak dihadapan pasangan. Itu lebih
bijak dan baik ketimbang kita menuntut kesempurnaan akan pasangan. Bukankah
salah satu prinsip pasangan itu saling melengkapi satu dengan lainya?.
Mengingat kisah diatas saya jadi
teringat nasehat para Ulama akan perkara tersebut.
Abu Thalib al-Makki mengatakan:
“Sanggup mencintai wanita yang
agak kurang dari sisi fisik, wajah tidak cantik, dan sudah lanjut usia,
termasuk salah satu bentuk zuhud.”
Abu Sulaiman pernah mengatakan:
“Zuhud ada pada semua aspek.
Termasuk sikap seorang lelaki yang menikahi wanita tua atau yang penampilannya
tidak menarik, dalam rangka zuhud terhadap dunia.”
Malik bin Dinar mengatakan:
“Tidak dilarang bagi kalian untuk
menikahi wanita yatim. Dia akan mendapatkan pahala ketika dia memberi makan dan
pakaian kepadanya. Dia wanita yang ringan belanjanya, rela dengan harta yang
sedikit. Dari pada menikahi wanita putri orang kaya – wanita yang merasakan
kemegahan dunia – maka dia menjadi beban suami, karena ingin mendapatkan semua
yang dia inginkan. Dia meminta pakaian model ini, belikan selimut sutera,
sehingga rontok sudah agamanya.”
Imam Ahmad bin Hambal
rahimahullah, lebih memilih wanita yang buta sebelah, dari pada saudari wanita
ini yang sehat dan cantik. Ketika beliau ditawari, Imam Ahmad betanya: “Siapa
yang lebih pandai?” Dijawab: Yang buta. Kemudian Imam Ahmad mengatakan:
“Nikahkan aku dengannya.” Dan terkadang, menikahi wanita yang rendah (bukan
anak orang penting), ada yang cacat fisiknya, dalam rangka menyenangkan
hatinya, karena wanita semacam ini tidak dicintai, termasuk ibadah bagi hati,
dalam berinteraksi dengan orang yang dicintai.
Ya..Allah, berikanlah hati hamba
kelapangan agar mampu menerima dengan apa adanya jodoh yang kau titipkan pada
hamba, dan juga semoga kelak pasangan hamba mampu menerima hamba apa adanya...
Amin.
[] Al Faqir Muhammad Fachmi H al Ghomawangiy
Pekalongan, Masjid Kampus Al
Jami’ STAIN Pekalongan
13.30. WIB. 06/02/012. Senin.
www.facebook.com/catatan/Ibnu
suyud at tamimi
.........................................................................
Ya..ukhti wa ikhwani
Rahimahullah ta’ala.
Sesungguhnya
menikah adalah sebuah seni mengolah hati dan karakter. Yang tentunya antara
hati dan karakter setiap orang berbeda, termasuk hati dan karakter pasangan
kita.
Seseorang yang
pandai dalam mengolah hati dan karakter tersebut adalah orang yang legowo-lapang
dada- atas karakter dan hati pasangan. Karena legowolah akan tumbuh rasa
ikhlas, sedang jika rasa ikhlas itu sudah muncul, maka apapun keadaan yang kita
alami, apapun wujud pasangan kita dan bagaimanapun kejadian yang terjadi. Kita
akan menjalaninya dengan enjoy dan happy.
Dengan
keihlasan itulah komitmen kita atas pasangan akan selalu terjaga. Dengan
komitmen, semua kekurangan pasangan akan mampu kita terima dengan ikhlas,
berbeda jika hanya menerima dengan ikhlas saja tanpa komitmen. Jika hanyan
mencukupkan keihlasan dalam menerima kekurangan dan kelebihan pasangan, maka
yang akan muncul hanyalah rasa lapang dada/legowo. Akan tetapi jika keikhlasan
dan komitmen akan kelebihan dan kekurangan pasangan maka yang akan muncul tidak
hanya legowo semata melainkan cinta juga akan muncul.
Menengok
kembali cerita diatas, kenapa sang suami yang rupawan mampu bertahan
mendampingi sang gadis yang cacat dan bisa dikatakan jelek. Itu tidaklah cukup
hanya dengan legowo saja, karena legowo itu bisa terhapuskan karena waktu,
waktu yang terus berjalan akan memunculkan kebosanan, dan kebosanan inilah yang
akan menyempitkan sikap legowo atau lapang dada. Sedangkan komitmen juga tidak
mencukupi. Karena komitmen akan mampu hilang karena godaan, semakin bergantinya
hari, semakin banyak pula peristiwa, sedang dalam setiap peristiwa tidak terlepas
dari godaan. Dan juga cinta saja tidak
cukup, terkadang cinta bisa terhapuskan oleh kekecewaan. Setiap manusia
terkadang melakukan kesalahan dan membuat kecewa.
Jadi
rahasia langgengnya dan suksesnya mengolah hati dan karakter itu ada tiga ,
yaitu legowo/lapang dada, komitmen dan cinta atas pasangan kita terlepas dari
kelebihan dan kekuranganya sehingga dengan itu semua akan memunculkan rasa
ikhlas yang dimana rasa ihlas itu akan meringankan langkah kita dalam menempuh
kehidupan berumah tangga atau berpasangan.
Jadi
bagi yang belum menikah, mau menikah atau yang sudah menikah. Belajarlah
menumbuhkan tiga sikap tadi atas diri kita. InsyaAllah dengan kesungguhan
ikhtiar kita, Allah SWT akan menganugrahkan tiga sifat tadi pada diri kita.
Sehingga terbentuknya keluarga yang kita harapkan, yaitu keluarga yang sakinah,
mawahdah wal warohmah. Akan lebih besar peluangnya kita dapatkan. InsyaAllah
...amin.
Selamat mempraktekan......
Wassalam....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar