Kamis, 16 Februari 2012

Subhanallah, seperti inilah rupa istriku




Salah satu kegembiraan hati ketika berdakwah ialah, disaat dakwah kita disambut hangat dan diterima oleh umat. Dan sedangkan kegembiraan hati bagi para facebooker adalah ketika up date status mereka dikomen atau minimal like this atas posting mereka.

Biidznillah, ane adalah salah seorang ikhwan yang keranjingan dakwah via facebook. Jadi, jika dakwah ane diterima maka ada dua kegembiraan. Kegembiraan pertama adalah dakwah ane diterima dan kegembiraan kedua adalah banyak balasan komen atas posting dakwah yang ane posting.

Salah satu catatan dakwah yang ane posting dan banyak sambutan hangat dari friends yaitu perihal tema nikah. Entah kenapa ketika ane posting dengan tema nikah, pasti banyak yang share, like dan coment. Berbeda ketika ane posting tentang tauhid, jihad ,fiqih, dan politik. Sepi tiada yang minat .

Berikut, ane ingin berbagi salah satu catatan di facebook ane yang banyak di share lebih dari berkali kali, disukai-lake- oleh hampir ratusan friends dan beberapa komen. Bukan maksud hati ane berbangga atas respon facebooker yang lain. Hanya saja ane ingin membagi ibroh dari catatan yang sudah banyak dinilai oleh orang yang berlatar belakang berbeda. Dan alkhamdulillah rata-rata sama responya. Mereka senang dan banyak mengambil ibroh dari catatan tersebut.

Selamat menyimak.....


Subhanallah, seperti inilah rupa istriku

Sebuah romatisme yang indah adalah dikala sang kekasih mampu menerima kita apa adanya atas relita yang ada. Akan tetapi amat sulitlah mencari seorang pasangan yang bersedia menerima apa adanya, terlebih di zaman metropolis liberalis. Dimana pada hari ini fisik yang elok, harta melimpah dan jabatan bonafit menjadi talak ukur mutlak atas cinta dan kasih sayang.

Namun beda dirasa dengan kisah berikut. Suatu saat ustad saya, Ustad Tri Asmoro-hafidzhullah-  pernah bertutur memberikan arahan kepada saya perihal kriteria sang wanita yang harus saya nikahi. Beliau bercerita bahwa kemuliaan seorang lelaki adalah ketika ia mampu menerima sang wanita atupun pasangan apa adanya, tanpa menuntut sang wanita diatas ambang batas logika dan kemampuanya. Seorang lelaki tiada boleh terlalu menuntut kesempurnaan atas pasanganya, dan lebih bijak jika sang lelaki lebih intens menyempurnakan diri untuk sang wanita ketimbang terlalu menekankan ego agar memuntut sang pasangan akan kesempurnaan.
Beliau bercerita ketika beliau berdakwah di luar jawa, kurang lebih tempatnya di Bima, Nusa Tenggara. Suatu ketika, disaat selesai berdakwah beliau melihat seorang lelaki yang gagah, tinggi, putih lagi rupawan tampangnya. Jika diqiyaskan ia agak mirip saiful jamil sang penyanyi dangdut. Ketika disapa oleh beliau, Subhanallah ia begitu ramah dan penuh karismatik, sehingga tak khayal jika dalam hati ustad Tri agak terpesona akan akhlak dan parasnya, sehingga dalam hati beliau berucap. “ lelaki seganteng dan sebaik ini pasti istrinya cantik”. Sapa menyapa , ngobrol kesana kemari penuh ramah tamah, sehingga singkat cerita akhirnya sang lelaki tampan itu mengajak ustad Tri ke rumahnya sambi diperkenalkan istri tercintanya.
Ketika sang istri keluar untuk memperkenalkan diri. Subhanallah , serasa hati dan akal ini sukar ngiang untuk menerima. Ternyata, Qadarullah hi akhsan, tanpa maksud mengumbar aib. Sang istri lelaki tampan itu bukanlah seperti apa yang di bayangkan, teramat jauh dari cantik dan sempurna. Jika diperinci fisiknya,-maaf- wajahnya teramat sangat pas pasan, bahkan bisa dinilai jelek,warna kulitnya gelap dan fisiknya agak tidak sempurna, kakinya cacat dan hanya bisa diatas kursi roda. Selain fisiknya kurang baik, ternyata sikap sang istri ini ternyata agak menyebalkan. Sang istri seorang wanita yang sangat pencemburu, maklum bisa jadi karena ia merasa bahwa ia ada kekurangan dibanding dengan wanita lain terlebih suaminya adalah seorang yang super perfek dimata lelaki dan wanita.
Ketika ustadz Tri bertanya; “ afwan sebelumnya. Antum ko’ bisa dan bersedia mendampinginya pak?”. Lelaki itupun menjawab;” Ya..bagaimana lagi tadz, kalau bukan saya yang bersedia dengan dia, lalu siapa lagi yang mau denganya. Saya anggap ini adalah ibadah yang saya tunjukan kepada Allah, semoga saya mendapat barokah tersendiri dengan bersedianya saya menikahi istri saya yang seperti ini kondisinya.” . “Ow... gitu ya pak?, kemudian bagai mana kronologinya ,kok bisa antum menikahinya”. “ Dia adalah wanita miskin yang dicerai suaminya, kemudian saya iba melihatnya dan sayapun menikahinya, lama-kelamaan dari awal iba tersebut lama kelamaan saya mencintainya”. “ Subhanallah, berarti anda menikahinya dalam keadaan janda, sedang waktu itu anda seorang jejaka muda.” “Ya,,seperti itulah tadz”.

Cerita diatas  menjelaskan kepada kita bahwa dengan rasa tulus ikhlas menikah karena Allah, mampu membuat perkara yang sekiranya berat diterima hati dan akal dapat diterima dengan lapang dada. Maka dari itu, jika memang kita mencintai pasangan kita karena Allah. Mari, jangan selalu memuntut kesempurnaan akan pasangan kita, tapi terimalah apa adanya dirinya. Sempurnakan diri agar selalu tampak dihadapan pasangan. Itu lebih bijak dan baik ketimbang kita menuntut kesempurnaan akan pasangan. Bukankah salah satu prinsip pasangan itu saling melengkapi satu dengan lainya?.

Mengingat kisah diatas saya jadi teringat nasehat para Ulama akan perkara tersebut.

Abu Thalib al-Makki mengatakan:

“Sanggup mencintai wanita yang agak kurang dari sisi fisik, wajah tidak cantik, dan sudah lanjut usia, termasuk salah satu bentuk zuhud.”

Abu Sulaiman pernah mengatakan:

“Zuhud ada pada semua aspek. Termasuk sikap seorang lelaki yang menikahi wanita tua atau yang penampilannya tidak menarik, dalam rangka zuhud terhadap dunia.”

Malik bin Dinar mengatakan:

“Tidak dilarang bagi kalian untuk menikahi wanita yatim. Dia akan mendapatkan pahala ketika dia memberi makan dan pakaian kepadanya. Dia wanita yang ringan belanjanya, rela dengan harta yang sedikit. Dari pada menikahi wanita putri orang kaya – wanita yang merasakan kemegahan dunia – maka dia menjadi beban suami, karena ingin mendapatkan semua yang dia inginkan. Dia meminta pakaian model ini, belikan selimut sutera, sehingga rontok sudah agamanya.”

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, lebih memilih wanita yang buta sebelah, dari pada saudari wanita ini yang sehat dan cantik. Ketika beliau ditawari, Imam Ahmad betanya: “Siapa yang lebih pandai?” Dijawab: Yang buta. Kemudian Imam Ahmad mengatakan: “Nikahkan aku dengannya.” Dan terkadang, menikahi wanita yang rendah (bukan anak orang penting), ada yang cacat fisiknya, dalam rangka menyenangkan hatinya, karena wanita semacam ini tidak dicintai, termasuk ibadah bagi hati, dalam berinteraksi dengan orang yang dicintai.

Ya..Allah, berikanlah hati hamba kelapangan agar mampu menerima dengan apa adanya jodoh yang kau titipkan pada hamba, dan juga semoga kelak pasangan hamba mampu menerima hamba apa adanya... Amin.


[]  Al Faqir Muhammad Fachmi H  al Ghomawangiy
Pekalongan, Masjid Kampus Al Jami’ STAIN Pekalongan
13.30. WIB. 06/02/012. Senin.

.........................................................................

Ya..ukhti wa ikhwani Rahimahullah ta’ala.

Sesungguhnya menikah adalah sebuah seni mengolah hati dan karakter. Yang tentunya antara hati dan karakter setiap orang berbeda, termasuk hati dan karakter pasangan kita.
Seseorang yang pandai dalam mengolah hati dan karakter tersebut adalah orang yang legowo-lapang dada- atas karakter dan hati pasangan. Karena legowolah akan tumbuh rasa ikhlas, sedang jika rasa ikhlas itu sudah muncul, maka apapun keadaan yang kita alami, apapun wujud pasangan kita dan bagaimanapun kejadian yang terjadi. Kita akan menjalaninya dengan enjoy dan happy.
                Dengan keihlasan itulah komitmen kita atas pasangan akan selalu terjaga. Dengan komitmen, semua kekurangan pasangan akan mampu kita terima dengan ikhlas, berbeda jika hanya menerima dengan ikhlas saja tanpa komitmen. Jika hanyan mencukupkan keihlasan dalam menerima kekurangan dan kelebihan pasangan, maka yang akan muncul hanyalah rasa lapang dada/legowo. Akan tetapi jika keikhlasan dan komitmen akan kelebihan dan kekurangan pasangan maka yang akan muncul tidak hanya legowo semata melainkan cinta juga akan muncul.
                Menengok kembali cerita diatas, kenapa sang suami yang rupawan mampu bertahan mendampingi sang gadis yang cacat dan bisa dikatakan jelek. Itu tidaklah cukup hanya dengan legowo saja, karena legowo itu bisa terhapuskan karena waktu, waktu yang terus berjalan akan memunculkan kebosanan, dan kebosanan inilah yang akan menyempitkan sikap legowo atau lapang dada. Sedangkan komitmen juga tidak mencukupi. Karena komitmen akan mampu hilang karena godaan, semakin bergantinya hari, semakin banyak pula peristiwa, sedang dalam setiap peristiwa tidak terlepas dari godaan.  Dan juga cinta saja tidak cukup, terkadang cinta bisa terhapuskan oleh kekecewaan. Setiap manusia terkadang melakukan kesalahan dan membuat kecewa.
                Jadi rahasia langgengnya dan suksesnya mengolah hati dan karakter itu ada tiga , yaitu legowo/lapang dada, komitmen dan cinta atas pasangan kita terlepas dari kelebihan dan kekuranganya sehingga dengan itu semua akan memunculkan rasa ikhlas yang dimana rasa ihlas itu akan meringankan langkah kita dalam menempuh kehidupan berumah tangga atau berpasangan.
                Jadi bagi yang belum menikah, mau menikah atau yang sudah menikah. Belajarlah menumbuhkan tiga sikap tadi atas diri kita. InsyaAllah dengan kesungguhan ikhtiar kita, Allah SWT akan menganugrahkan tiga sifat tadi pada diri kita. Sehingga terbentuknya keluarga yang kita harapkan, yaitu keluarga yang sakinah, mawahdah wal warohmah. Akan lebih besar peluangnya kita dapatkan. InsyaAllah ...amin.

Selamat mempraktekan......
Wassalam....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar