Grebek warnet
D
|
alam
surat kabar Radar Pekalongan dilaporkan bahwa sepasang muda-mudi siwa SMA kota
Pekalongan , tertangkap basah oleh satuan polisi pamong praja disebuah warnet
kota Pekalongan, berita ini tidak hanya tersiar di surat kabar lokal semata, melainkan
stasiun televisi nasional seperti MNC TV , SCTV dan TRANS pun turut serta
menyiarkan berita ini. Sudah jelas berita ini adalah berita yang mengenaskan
tapi tidak begitu mengagetkan, pasalnya isu warnet dijadikan temapat esek-esek
bukanlah perkara baru, melainkan suatu hal yang sudah banyak khalayak umum
mengetahui perkara ini.
Fenomena buka internet dengan model perkamar memang ironis, tempat yang
saling tertutup satu sama lain, apalagi seolah memiliki hak privasi sendiri
sehingga orang lain tidak bisa mengusiknya, dan ini dilakuakn oleh semua
pengusaha warnet dengan alasan kenyamanan pengunjung. Atas situasi inilah
warnet berubah fungsi, yang seyogyanya menjadi tempat untuk menimba ilmu atas
informasi yang mendunia, disalah fungsikan sebgai sarana mesum pasangan
muda-mudi yang menggila. Sebuah kamar warnet dengan fasilitas internet yang
luas dan supernyaman dengan privasi tinggi bahkan full AC sangat nyaman bila
dijadikan tempat untuk berduaan melepas hasrat dan syahwat. Yang paling
ditakutkan adalah bukanya kamar super nyaman itu memiliki fasilitas internet,
yang bisa jadi kalo iseng akan membuka situs porno yang menambah panas suasana.
Ini bukanlah prasangaka kosong tanpa dasar. Perkara ini sudah menjadi rahasia
umum dikalangan remaja, yang dimana sering diistilahkan dengan kamar asmara
atau kalo anak muda bilang “gratisan”, bagaimana tidak gratisan, dulu sebelum
adanya warnet para pemuda jika hendak mesum dengan aman mereka harus susah paya
ke kebon, jalan yang sepi,atau nunggu rumah sepi kala orang tua pergi bahkan
yang agak kaya akan mengeluarkan sedikit uang untuk sewa tempat, tapi sekarang any
time any were kalo pingin cari tempat asyik dan aman untuk gituan tinggal
cari warnet terdekat.
Ketika penulis melakukan survei
dengan cara wawancara ke beberapa orang, entah itu operator warnet, para
mahasiswa, para pelajar SMA-yang jujur-,dan pegawai. Jawaban mereka dapat
disimpulkan sebagai berikut, para operator warnet rata-rata mengakui bahwa
pengunjungnya rata-rata sekitar 85 persen adalah seorang muda-mudi yang
berpasangan,5 persen adalah pegawai ,umum dan pelajar yang hendak cetak print,
dan 10 persenya masyarakat umum baik itu mahasiswa, pelajar , pegawai maupun
umum yang datang sendirian atau bersama kawan-kawanya yang dalam tanda kutip
hendak berbuat baik sebagaimana mestinya fungsi warnet. Mereka mengakui ketika
malam-malam sepesial seperti malam minggu dan jum’at hampir seluruh kamar
warnet dipenuhi oleh pasangan muda-mudi yang berpakaian necis dan wangi
layaknya orang akan pacaran, jika dibilang hendak mengerjakan tugas sekolah
kenapa juga harus berdadandan dan bareng dengan pacarnya, apa mungkin memang
betul mengerjakan tugas sekolah tetapi disambi menggarap tugas lainya?. Tidak
lama sebelum tulisan ini dibuat ada tetangga penulis, ia seorang ibu-ibu yang
pada awalnya tidak percaya bahwa anak perempuanya sering pacaran di warnet atas
laporan kawan-kawanya, tetapi karena naluri ibu yang kuat akhirnya ibu itupun
memutuskan untuk menengok putrinya tersebut ketika diwarnet. Duar... hati ibu
itupun meledak, ternyata benar atas berita tentang anaknya, ketika itu sang ibu
sedang memergoki putrinya sedang mesum, dengan posisi-maaf- berciuman ekstrim
sambil raba sana raba sini, ibu itupun sakit hati bukan kepalang sampai nangis-nangis
dengan histeris di tepat kejadian
perkara sambil beristighfar. Ini nyata loh bukan kabar burung.
Kemudian di lanjutkan kepada
mahasiswa dan pelajar-yang baik-. Para mahasiswa rata-rata jarang sekali pergi
ke warnet, adapun ketika ia pergi ke warnet paling banter cuma pingin cetak
print, para mahasiswa lebih suka memanfaatkan fasilitas hotspot area kampus
mereka masing-masing dan juga PC berfasilitas internet yang disediakan
kampus ketika hendak ngenet-bermain
internet-. Adapun para plajar SMA juga sama, sebagian mereka ada yang
menggunkan fasilitas internet rumah bagi yang ada, dan menggunkan hotspot area
bagi yang memiliki laptop dan sebagian ada yang ke warnet. Jadi dari keterangan
diatas dapat dikatakan bahwa fungsi warnet sebagian sudah jauh dari yag
semestinya, yang diharapkan mampu disediakan untuk menggali sarana inforasi dan
pendidikan disalah gunakan untuk hal yang tidak baik. Kasus ini pun belum
disangkut pautkan tentang maraknya pembukaan situs porno di warnet-warnet ,
jika iya maka semakin jauhlah fungsi warnet yang sebenarnya.
Maka dari itu bagi orang tua,
para guru , ormas, pemerintah dan tokoh masyrakat mulai dari RT hingga alim
ulama harus lebih intens memperhatikan fenomena ini, agar anak muda calon
pewaris agama dan bangsa ini tidak menjadi pemuda yang amoral sehingga tidak
mampu menggemban amanat, jika generasi muda sudah rusak siapa lagi yang bisa
diharapkan. Mungkin perlu adanya jargon baru demi melindungi generasi muda yang
mulai liar ini, jargon itu adalah “ gerebek warnet”. Yang dimana diharapkan
dengan adanya tindakan tegas bagi para pengusaha warnet agar lebih
memperhatikan tempat usaha mereka, sebab siapa lagi yang kuasa mengawasi para
pemuda ketika di warnet kalau bukan mereka selaku pengelola warnet tersebut.
Astaghfirullah ,,,kacau betul negeri ini.[]. Fachmi H

Tidak ada komentar:
Posting Komentar