Selasa, 14 Februari 2012

Grebek WARNET



Grebek warnet

D
alam surat kabar Radar Pekalongan dilaporkan bahwa sepasang muda-mudi siwa SMA kota Pekalongan , tertangkap basah oleh satuan polisi pamong praja disebuah warnet kota Pekalongan, berita ini tidak hanya tersiar di surat kabar lokal semata, melainkan stasiun televisi nasional seperti MNC TV , SCTV dan TRANS pun turut serta menyiarkan berita ini. Sudah jelas berita ini adalah berita yang mengenaskan tapi tidak begitu mengagetkan, pasalnya isu warnet dijadikan temapat esek-esek bukanlah perkara baru, melainkan suatu hal yang sudah banyak khalayak umum mengetahui perkara ini.
Fenomena buka internet dengan  model perkamar memang ironis, tempat yang saling tertutup satu sama lain, apalagi seolah memiliki hak privasi sendiri sehingga orang lain tidak bisa mengusiknya, dan ini dilakuakn oleh semua pengusaha warnet dengan alasan kenyamanan pengunjung. Atas situasi inilah warnet berubah fungsi, yang seyogyanya menjadi tempat untuk menimba ilmu atas informasi yang mendunia, disalah fungsikan sebgai sarana mesum pasangan muda-mudi yang menggila. Sebuah kamar warnet dengan fasilitas internet yang luas dan supernyaman dengan privasi tinggi bahkan full AC sangat nyaman bila dijadikan tempat untuk berduaan melepas hasrat dan syahwat. Yang paling ditakutkan adalah bukanya kamar super nyaman itu memiliki fasilitas internet, yang bisa jadi kalo iseng akan membuka situs porno yang menambah panas suasana. Ini bukanlah prasangaka kosong tanpa dasar. Perkara ini sudah menjadi rahasia umum dikalangan remaja, yang dimana sering diistilahkan dengan kamar asmara atau kalo anak muda bilang “gratisan”, bagaimana tidak gratisan, dulu sebelum adanya warnet para pemuda jika hendak mesum dengan aman mereka harus susah paya ke kebon, jalan yang sepi,atau nunggu rumah sepi kala orang tua pergi bahkan yang agak kaya akan mengeluarkan sedikit uang untuk sewa tempat, tapi sekarang any time any were kalo pingin cari tempat asyik dan aman untuk gituan tinggal cari warnet terdekat.
Ketika penulis melakukan survei dengan cara wawancara ke beberapa orang, entah itu operator warnet, para mahasiswa, para pelajar SMA-yang jujur-,dan pegawai. Jawaban mereka dapat disimpulkan sebagai berikut, para operator warnet rata-rata mengakui bahwa pengunjungnya rata-rata sekitar 85 persen adalah seorang muda-mudi yang berpasangan,5 persen adalah pegawai ,umum dan pelajar yang hendak cetak print, dan 10 persenya masyarakat umum baik itu mahasiswa, pelajar , pegawai maupun umum yang datang sendirian atau bersama kawan-kawanya yang dalam tanda kutip hendak berbuat baik sebagaimana mestinya fungsi warnet. Mereka mengakui ketika malam-malam sepesial seperti malam minggu dan jum’at hampir seluruh kamar warnet dipenuhi oleh pasangan muda-mudi yang berpakaian necis dan wangi layaknya orang akan pacaran, jika dibilang hendak mengerjakan tugas sekolah kenapa juga harus berdadandan dan bareng dengan pacarnya, apa mungkin memang betul mengerjakan tugas sekolah tetapi disambi menggarap tugas lainya?. Tidak lama sebelum tulisan ini dibuat ada tetangga penulis, ia seorang ibu-ibu yang pada awalnya tidak percaya bahwa anak perempuanya sering pacaran di warnet atas laporan kawan-kawanya, tetapi karena naluri ibu yang kuat akhirnya ibu itupun memutuskan untuk menengok putrinya tersebut ketika diwarnet. Duar... hati ibu itupun meledak, ternyata benar atas berita tentang anaknya, ketika itu sang ibu sedang memergoki putrinya sedang mesum, dengan posisi-maaf- berciuman ekstrim sambil raba sana raba sini, ibu itupun sakit hati bukan kepalang sampai nangis-nangis dengan histeris di tepat  kejadian perkara sambil beristighfar. Ini nyata loh bukan kabar burung.
Kemudian di lanjutkan kepada mahasiswa dan pelajar-yang baik-. Para mahasiswa rata-rata jarang sekali pergi ke warnet, adapun ketika ia pergi ke warnet paling banter cuma pingin cetak print, para mahasiswa lebih suka memanfaatkan fasilitas hotspot area kampus mereka masing-masing dan juga PC berfasilitas internet yang disediakan kampus  ketika hendak ngenet-bermain internet-. Adapun para plajar SMA juga sama, sebagian mereka ada yang menggunkan fasilitas internet rumah bagi yang ada, dan menggunkan hotspot area bagi yang memiliki laptop dan sebagian ada yang ke warnet. Jadi dari keterangan diatas dapat dikatakan bahwa fungsi warnet sebagian sudah jauh dari yag semestinya, yang diharapkan mampu disediakan untuk menggali sarana inforasi dan pendidikan disalah gunakan untuk hal yang tidak baik. Kasus ini pun belum disangkut pautkan tentang maraknya pembukaan situs porno di warnet-warnet , jika iya maka semakin jauhlah fungsi warnet yang sebenarnya.
Maka dari itu bagi orang tua, para guru , ormas, pemerintah dan tokoh masyrakat mulai dari RT hingga alim ulama harus lebih intens memperhatikan fenomena ini, agar anak muda calon pewaris agama dan bangsa ini tidak menjadi pemuda yang amoral sehingga tidak mampu menggemban amanat, jika generasi muda sudah rusak siapa lagi yang bisa diharapkan. Mungkin perlu adanya jargon baru demi melindungi generasi muda yang mulai liar ini, jargon itu adalah “ gerebek warnet”. Yang dimana diharapkan dengan adanya tindakan tegas bagi para pengusaha warnet agar lebih memperhatikan tempat usaha mereka, sebab siapa lagi yang kuasa mengawasi para pemuda ketika di warnet kalau bukan mereka selaku pengelola warnet tersebut. Astaghfirullah ,,,kacau betul negeri ini.[].  Fachmi H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar