[] RUBRIK : Kajian Utama
Manusia mana yang
tidak ingin hidup mulia. Banyak orang yang salah mengartikan kemuliaan,yaitu
dengan menganggap bahwa pokok kemuliaan adalah dengan harta semata. Memang
harta adalah salah satu sarana untuk mengangkat kemuliaan,akan tetapi harta
seperti apakah yang mampu mengangkat kemuliaan seseorang.
Harta yang terbebas dari kikir
Lawan dari kikir
adalah derma[1] yang
dimana kikir adalah sikap tercela yang berujung kepada kehinaan terhadap orang
yang memiliki sifat tersebut. Maka dari itu apabila ingin mendapatkan kemuliaan
yang hakiki, hendaklah menjauhi sifat kikir atas harta yang dimiliki, karena
kikir adalah salah satu perbuatan dan seruan setan. Manusia manakah yang
menjadi mulia bila ia mengikuti dan menjawab seruan setan.
Allah
swt,berfirman: “Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan
menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu
ampunan daripada-Nya dan karunia (kemuliaan di dunia)..Dan Allah Maha Luas
(karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.”(QS.Al-Baqoroh. 268.)Didalam ayat tersebut
dijelaskan bahwa setan senantiasa membisikan pada manusia berupa ketakutan akan
kemiskinan apabila hendak berderma, padahal disatu sisi Allah menawarkan
ampunan dan karunia bagi manusia yang mau menjauhi sifat kikir.
Ibnu Abbas
menjelaskan maksud dari “menyuruh kamu berbuat kejahatan” yaitu maksudnya kikir, dan
setan senantiasa menakuti manusia akan kemiskinan agar ia menjadi orang
kikir. Adapun bila ia lebih memilih seruan Allah maka akan mendapatkan “
ampunan” dan juga “ karunia”. “karunia” tersebut maksudnya yaitu rizqi yang
senantiasa bertambah dan 'ampunan” yakni Allah akan mengampuni hamba-Nya atas
kemaksiatan yang dilakukan,sehingga akan mengangkat kembali derajat dan
martabat manusia (mulia).[2]
Bahkan Allah
menggolongkan orang yang terbebas dari sifat kikir kedalam golongan orang-orang
yang beruntung.
Allah swt,berfirman :
“Dan siapa yang
dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang - orang
yang beruntung “ (QS.Al Hasyr:9)
Syaikh Sholeh bin
Utsaimin berkata: ”Para ahli tafsir menjelaskan tentang kata “beruntung”
maknanya adalah tercapainya tujuan yang dicari dan terhindar dari sesuatau yang
dibenci”.
Maka dari itulah
jika kemuliaan yang dicari sudah sepatutnya kita mengganti sifat kikir dengan
sifat derma atas harta yang kita miliki, dimana dengan berderma harta akan
menjadi mulia karenanya. Akan banyak orang yang mencintai kedermawanan , selain
itu juga dikategorikan Allah sebagai orang yang beruntung dan orang yang
terhindar dari seruan setan. Wallahu'alam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar